[ReBlog] Yang Bagaimana Yang Ditakan "MENG-INDONESIAKAN - INDONESIA"
Teringat
apa yang pernah di utarakan niluh akan produk sepatunya “Sebagus apapun
kamu membuat sepatu, kalau tidak di kemas dan di display dengan baik
orang tidak akan sadar dan ngeh akan produk tersebut”.
Samapun dengan kesadaran bernegara, ketika lo menjadi orang asing di
negeri yang jauh dari tempat tinggal lo, rasa bangga menjadi ORANG
INDONESIA itu sungguh-sungguh besar sekali.
Tempo hari ketika dengan tidak sengaja bertemu dengan beberapa teman
lama dan bercerita tentang tetek bengek travelling, sampailah pada
diskusi mengenai kesadaran bernegara melalui travelling. Ada seorang
teman yang sempat mengatakan kebanyakan orang kita tidak
meng-INDONESIAKAN Indonesia hanya karena lebih sering travelling &
membuang uang ke negara orang lain dan jarang menyempatkan diri untuk
menikmati keelokan negeri sendiri.
Hmmmm…okay itu pendapat mereka..Tidak Indonesia? membuang uang untuk
negara lain? buat saya tidak sebegitunya juga sih.. beberapa kali memang
saya lebih mempertimbangkan jalan ke negara lain karena beberapa alasan
tertentu. Sebenarnya itu tidak juga bisa dikatakan tidak memiliki
kesadaran bernegara, saya berani bandingkan betapa meluap-luapnya saya
ketika ada seorang bule spanyol yang tidak tau indonesia, dan saya
sangat antusias menceritakan keindahan negeri saya. Betapa bangganya
saya memakai kaos bertulisakan “INDONESIA MY SWEET HOME” atau
bertulisakan “I PROUND TO BE INDONESIAN” di negara yang menganggap remeh
bangsa saya dan saya berusaha mengubah paradigma itu.
Berkunjung ke beberapa negara justru membuat saya lebih mengetahui
betapa Indonesia mempunyai penilaian berbeda-beda dari masyarakat di
suatu negara. Bagaimana Indonesia dianggap tidak terpelajar
orang-orangnya atau bagaimana Indonesia telah mempunyai hubungan baik
sebagai bangsa yang besar dan diakui oleh negara lain dan itu membuat
bangga saya. Terakhir ketika ke Myanmar, berapa kali orang yang mengajak
berkenalan selalu langsung menebak saya “Are you from Indonesia?”
negara besar yang menanamkan banyak investasi di negara yang baru saja
terinternasionalisasi setelah lebih dari setengah abad menutup diri.
Di Hostel-ketika saya di penang, seorang bule spayol yang mengatakan
bahwa mentawai itu ada di malaysia dan saya jelaskan bahwa mentawai itu
ada di sumatera-Indonesia, ia pun penasaran bertanya kepada saya:
“Where’s Indonesia? so far from here?”
Akhirnya saya pinjam peta yang ada di hostel dan mulai menjelaskan
peta Asia, dia manggut-manggut. Sedetik kemudian ia merespon: “I thought
mentawai is in malaysia”
Yak, kita kalah diplomasi & kalah start dalam hal pariwisata
memang, tapi ya mbok jangan kebangetan sampai tidak tahu negara selebar
Amerika Serikat dan seluas lebih dari Brazil ini..haduuuhhhhh…
Dalam suatu perjalanan pulang menuju Jakarta dari Solo, saya bertemu
dengan bule ganteng dari Prancis namanya Hans. Dia udah 3 minggu di
Bali, Yogya dan Solo. Tanpa berbasa-basi saya langsung bertanya “So,
how’s Indonesia?”.
“Not sure to go here twice” kata Hans
“Why?” jawab saya dengan nada kaget+kecewa
“Everyone stare at me, and expensive”
Nah, jawaban blak-blakan dari turis yang baru aja ke Indonesia ini
buat saya agak kecewa dan malu. Untuk mahal memang Indonesia mempunyai
biaya hidup yang relatif mahal, terutama untuk turis yang dikenakan
harga lebih tinggi dari masyarakat lokal. Budaya aji mumpung ini yang
masih jadi PR bersama. Sudah selayaknya kita berpikir lebih jauh untuk
ramah secara tarif pada orang asing yang berkunjung ke Indonesia untuk
keberlanjutan penghasilan dengan menarik lebih banyak turis.
Ketika berkunjung keluar negeri, saya selalu berharap bertemu orang
Indonesia. Berbicara dalam bahasa Indonesia di luar negeri dengan
orang-orang yang kita temui adalah amazing! Dari situlah saya menyebut
tumbuhnya kesadaran bernegara berbangsa, bahwa negara kita layak
dibanggakan di mata Internasional.
Bagaimana dengan perjalanan ke dalam negeri? Terakhir gw ngetrip ke
malang, saya agak tersentak ada orang yang berbaik hati mengajak ngobrol
dan menunjukkan jalan ke air terjun tiba-tiba menarik biaya dari saya
sebesar 200 ribu. Apa itu yang dikatakan keramahtamahan Indonesia?
Labels: My Thoughts

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home