Saturday, 31 August 2013

[ReBlog] Yang Bagaimana Yang Ditakan "MENG-INDONESIAKAN - INDONESIA"

Teringat apa yang pernah di utarakan niluh akan produk sepatunya “Sebagus apapun kamu membuat sepatu, kalau tidak di kemas dan di display dengan baik orang tidak akan sadar dan ngeh akan produk tersebut”.
Samapun dengan kesadaran bernegara, ketika lo menjadi orang asing di negeri yang jauh dari tempat tinggal lo, rasa  bangga menjadi ORANG INDONESIA itu sungguh-sungguh besar sekali.
Tempo hari ketika dengan tidak sengaja bertemu dengan beberapa teman lama dan bercerita tentang tetek bengek travelling, sampailah pada diskusi mengenai kesadaran bernegara melalui travelling. Ada seorang teman yang sempat mengatakan kebanyakan orang kita tidak meng-INDONESIAKAN Indonesia hanya karena lebih sering travelling & membuang uang ke negara orang lain dan jarang menyempatkan diri untuk menikmati keelokan negeri sendiri.
Hmmmm…okay itu pendapat mereka..Tidak Indonesia? membuang uang untuk negara lain? buat saya tidak sebegitunya juga sih.. beberapa kali memang saya lebih mempertimbangkan jalan ke negara lain karena beberapa alasan tertentu. Sebenarnya itu tidak juga bisa dikatakan tidak memiliki kesadaran bernegara, saya berani bandingkan betapa meluap-luapnya saya ketika ada seorang bule spanyol yang tidak tau indonesia, dan saya sangat antusias menceritakan keindahan negeri saya. Betapa bangganya saya memakai kaos bertulisakan “INDONESIA MY SWEET HOME” atau bertulisakan “I PROUND TO BE INDONESIAN” di negara yang menganggap remeh bangsa saya dan saya berusaha mengubah paradigma itu.
Berkunjung ke beberapa negara justru membuat saya lebih mengetahui betapa Indonesia mempunyai penilaian berbeda-beda dari masyarakat di suatu negara. Bagaimana Indonesia dianggap tidak terpelajar orang-orangnya atau bagaimana Indonesia telah mempunyai hubungan baik sebagai bangsa yang besar dan diakui oleh negara lain dan itu membuat bangga saya. Terakhir ketika ke Myanmar, berapa kali orang yang mengajak berkenalan selalu langsung menebak saya “Are you from Indonesia?” negara besar yang menanamkan banyak investasi di negara yang baru saja terinternasionalisasi setelah lebih dari setengah abad menutup diri.
Di Hostel-ketika saya di penang, seorang bule spayol yang mengatakan bahwa mentawai itu ada di malaysia dan saya jelaskan bahwa mentawai itu ada di sumatera-Indonesia, ia pun penasaran bertanya kepada saya:
 “Where’s Indonesia? so far from here?”
Akhirnya saya pinjam peta yang ada di hostel dan mulai menjelaskan peta Asia, dia manggut-manggut. Sedetik kemudian ia merespon: “I thought mentawai is in malaysia”
Yak, kita kalah diplomasi & kalah start dalam hal pariwisata memang, tapi ya mbok jangan kebangetan sampai tidak tahu negara selebar Amerika Serikat dan seluas  lebih dari Brazil ini..haduuuhhhhh…
Dalam suatu perjalanan pulang menuju Jakarta dari Solo, saya bertemu dengan bule ganteng dari Prancis namanya Hans. Dia udah 3 minggu di Bali, Yogya dan Solo. Tanpa berbasa-basi saya langsung bertanya “So, how’s Indonesia?”.
“Not sure to go here twice” kata Hans
“Why?” jawab saya dengan nada kaget+kecewa
“Everyone stare at me, and expensive”
Nah, jawaban blak-blakan dari turis yang baru aja ke Indonesia ini buat saya agak kecewa dan malu. Untuk mahal memang Indonesia mempunyai biaya hidup yang relatif mahal, terutama untuk turis yang dikenakan harga lebih tinggi dari masyarakat lokal. Budaya aji mumpung ini yang masih jadi PR bersama. Sudah selayaknya kita berpikir lebih jauh untuk ramah secara tarif pada orang asing yang berkunjung ke Indonesia untuk keberlanjutan penghasilan dengan menarik lebih banyak turis.
Ketika berkunjung keluar negeri, saya selalu berharap bertemu orang Indonesia. Berbicara dalam bahasa Indonesia di luar negeri dengan orang-orang yang kita temui adalah amazing! Dari situlah saya menyebut tumbuhnya kesadaran bernegara berbangsa, bahwa negara kita layak dibanggakan di mata Internasional.
Bagaimana dengan perjalanan ke dalam negeri? Terakhir gw ngetrip ke malang, saya agak tersentak ada orang yang berbaik hati mengajak ngobrol dan menunjukkan jalan ke air terjun tiba-tiba menarik biaya dari saya sebesar 200 ribu. Apa itu yang dikatakan keramahtamahan Indonesia?

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home