Thursday, 26 September 2013

MY TRAVEL BUDDY - MY LOVELY FRIENDS!

When it comes to traveling, i always fall into excitement.

The browsing about where-to-go, how-to-travel, when-to-depart, where-to-eat, and ultimately who-i-go-with?
I do like solo traveling, but a travel-buddy will make the whole difference on how you enjoy the trip. A good travel-mate will make a joyous trip, a bad travel-buddy will make a disastrous trip. Believe me, you just don’t want a bad travel-buddy, it is baaaadddd for your sanity x))

Luckily for me, i meet a perfect travel-buddy among my colleagues at senior high school.

I met anis, amel and sapi (actually her name is savitri..x)) ) when i was in senior high school. We’re getting closer each day with some other friends. It lead us to our very first trip together – to Harapan Island, Pulau Seribu.

Since then, we just can’t stop thinking “where to go next? when the budget airlines are having a great sale?” Plus we don’t have anyone who objected our hobby, and we’re very single at that time. Single, lots of money and lots of leave balance…perfect life! Don’t ask us now, or you will be a very unlucky person of the day. x))

Its easy to plan a trip with them since we have a pretty much same background. We are a simple traveler with a simple vision…we’re just happy being on a trip. We hate to be worrying on simple things. Kalau bisa mudah, kenapa harus susah?

We’re not a super wealthy people, we talk about money bluntly. If one of us cannot afford it, then we find other place or other way to reach it. we did not make any itineraries, ngahaaahaahaa.....We only bring a travel book for reference and just wandering the places as far as our feet can make it.


Lack of topics to talk?? No, it won’t happen to us. We can talk for houuursssss…on the same topic and we have a lot of topics to talk. Not to mention gossiping. hiihiiihii...apalagi ada si sapi yang hobi banget ngelawak..ga berhenti dibuatnya ngakak..x))

 

Ah i miss being on a trip with them..

People said that if you want to know a true character of a person, go travel with them. If its the case, then me, amel, anis and sapi already tested and (un)fortunately we can bear each other’s quirkyness...x))

Labels:

Sunday, 1 September 2013

Ransel VS Koper?? SO WHAT GITUH!!!

Informasi sebelum baca: tulisan Ini dibuat berdasarkan pengalaman temen gw.
Awalnya gue pikir istilah pejalan hanyalah merujuk kepada gaya liburan atau jalan-jalan. Tetapi makin kesini, itu sudah seperti menunjukkan gengsi pejalan. Pejalan satu merasa lebih ciamik daripada pejalan lain dengan gaya liburan yang berbeda.
Ambil contoh untuk istilah backpacker. Berhubung temen gw selama ini liburan membawa bawaan koper, sering kali kupingnya panas denger komentar model begini:
“Yah yu, pake ransel dong. Masa koper gitu sih? Ga heits bener.”
Jelas aja doi naik pitam dan ngomel sambil bawa golok dengan berkata:
"BOK! Emangnya kenapa kalo gue liburan bawa koper? Emang gue minta bayarin tiket liburan sama lo lo pada?  Emang gue pernah minta lo bawain koper gue?"
*ngahaaahaaa macan utan ngamuk membara...
Tapi dari situ ada benernya juga sih kenapa doi ampe ngamuk begitu..
FYI gw udah beberapa kali jalan sama doi dan kopernya, kalo doi manggil si koper dengan panggilan sayang "SIMERAH". Gw inget banget pas kemarin jalan ke KL, Si merah ini pernah beratnya 22kg (gegara juragannya kalap borong sepatu ama tas vinci), ampe kudu masuk bagasi tapi sukses di selundupin ke cabin dan itu doi angkut sendiri tanpa bantuan orang lain. Gak nyusahin pol!
Belum lagi ketika harus naik turun tangga LTR yang berpuluh-puluh anak tangga, dengan gagah doi angkat geret ampe panggul pun sendiri..*super bener emang ini bocah..:)
Gw fikir kenapa gitu klo dia liburan pake koper artinya doi orang kaya?? Amin yue lo didoain jadi orang kaya...:)
Tapi sayangnya pakai koper tidak berarti liburannya luxurious juga sih..informasi aja harga koper temen gw itu  yg brandnya ternama itu harganya CUMA 300ribuan rupiah, kenapa gw tau? Orang belinya ama gw..haahhhaaa *sorry yue kebuka..x))
Biar murah tapi awet muda banget bro, dipakai membabi buta dari taon 2010. Gak pernah rewel, dibersihkan pun gampang *katanya..
Nah sekarang gw mau bandingin ama harga ransel orang-orang yang menyebutkan dirinya hits nan  cetar membahana itu?
Setau gue ga ada ransel yang bisa ngangkut berat 22 kg dengan harga 300ribuan Rupiah, meski itu merek lokal (jangan bahas seken ya, OOT!). Dan kebanyakan mereka pake ransel yang berbrand du***r nyang tersohor ituh...lo pada tau sendiri harganya berapa ciinntt?? mempesona banjreeettt..
Jadi yang horang kayah itu yang mana yak??

Walaupun gw selama ini setiap kali jalan menggukan ransel, tapi pertimbangan gw lebih kepada kepraktisan pribadi. Karena gw termasuk orang yang pelupa berat so..sepertinya lebih praktis dan aman kalau semua gw bawa bareng dengan tubuh ini.
Menurut gw bawa backpack pun juga ada plus minus-nya..Praktis? Jelas Ya.
Muat banyak? So-so lah.
Nyaman? Hmmm gak juga sih menurut gw. Yang ada malah kadang muncul backpain. Wajib hukumnya untuk membawa koyo di ransel..haahaaahaa
Dulu gw beli backpack item kesayangan ini pas mau mudik 2011 dan titah dari emak buat bawa baju masing-masing dan tanggung jawab bawa masing-masing. Alhasil pas lewat Tandeak cipulir ada sale lafuma gila-gilaan..mayan ga lebih dari 200ribu gw udah dapet si item manis 35lt...ampe sekarang pun masih setia menemani kefakiran cuti saya..ngaahaahaaa...

Balik lagi kemasalah lebel-lebelan yang bermula dari koper vs ransel, kenapa sih pada enggan dibilang turis?
Bukankah kita sebagai tamu didaerah baru – bukan tempat tinggal kita – itu termasuk kategori turis?
Emangnya ada statistik formal suatu wilayah “Jumlah backpacker/flashpacker yang berkunjung selama 2013“? Yang ada juga statistik formal jumlah turis lokal atau mancanegara selama tahun 2013.
So we all – the travelers – are tourist in front of the legal view.
I think there is nothing wrong with ‘tourist’ label.
“Tapi klo turis itu kan cuma foto-foto doang, makan enak doang, gak pake susah..turis banget deh.”
Ok “turis banget deh” itu apa sih definisinya? Dan kenapa konotasinya negatif?
Emangnya klo backpacker atau flashpacker itu pejalan yang lebih baik dari sekadar turis? Dude, come on. Don’t be lebay on the label deh.
Turis itu gak mau susah? Ya think?!?!

Dengan high pressure di kantor dan cuti-terbatas-sampe-minta-cuti-sehari-aja-dramanya-bermalam-malam jelas dong kalau kita worthed mau liburan yang santai, menikmati pemandangan dan leyeh-leyeh bergembira. Tapi apakah berarti gak mau bergaul dengan penduduk lokal? Tidak menjunjung adat setempat?
Ya, nggak dong. Tidak semua turis tidak mau berbaur dengan warga lokal dan tidak semua flashpacker/backpacker mau berbaur dengan warga lokal. Sering koq gue liat para flashpacker/backpacker ngobrol asik dengan sesamanya, bahkan cenderung bergerombol.
Balik lagi ke soal lebel-lebelan, salah seorang teman pernah ngomong gini: “Pejalan itu layak diacungi jempol, they’re willing to step out from the comfort zone. Mau berkenalan dengan dunia.”
Saya agak giman gitu with his statement.
Regardless the label or traveling-style, it is every traveler’s right to step in at new place. To learn local wisdom, to find a new way of life, to capture the beautiful scenery, and to share it with the loved ones back home.
Let’s stop arguing on who-is-better-on-travelling and just travel, shall we?

Labels:

Saturday, 31 August 2013

[ReBlog] Yang Bagaimana Yang Ditakan "MENG-INDONESIAKAN - INDONESIA"

Teringat apa yang pernah di utarakan niluh akan produk sepatunya “Sebagus apapun kamu membuat sepatu, kalau tidak di kemas dan di display dengan baik orang tidak akan sadar dan ngeh akan produk tersebut”.
Samapun dengan kesadaran bernegara, ketika lo menjadi orang asing di negeri yang jauh dari tempat tinggal lo, rasa  bangga menjadi ORANG INDONESIA itu sungguh-sungguh besar sekali.
Tempo hari ketika dengan tidak sengaja bertemu dengan beberapa teman lama dan bercerita tentang tetek bengek travelling, sampailah pada diskusi mengenai kesadaran bernegara melalui travelling. Ada seorang teman yang sempat mengatakan kebanyakan orang kita tidak meng-INDONESIAKAN Indonesia hanya karena lebih sering travelling & membuang uang ke negara orang lain dan jarang menyempatkan diri untuk menikmati keelokan negeri sendiri.
Hmmmm…okay itu pendapat mereka..Tidak Indonesia? membuang uang untuk negara lain? buat saya tidak sebegitunya juga sih.. beberapa kali memang saya lebih mempertimbangkan jalan ke negara lain karena beberapa alasan tertentu. Sebenarnya itu tidak juga bisa dikatakan tidak memiliki kesadaran bernegara, saya berani bandingkan betapa meluap-luapnya saya ketika ada seorang bule spanyol yang tidak tau indonesia, dan saya sangat antusias menceritakan keindahan negeri saya. Betapa bangganya saya memakai kaos bertulisakan “INDONESIA MY SWEET HOME” atau bertulisakan “I PROUND TO BE INDONESIAN” di negara yang menganggap remeh bangsa saya dan saya berusaha mengubah paradigma itu.
Berkunjung ke beberapa negara justru membuat saya lebih mengetahui betapa Indonesia mempunyai penilaian berbeda-beda dari masyarakat di suatu negara. Bagaimana Indonesia dianggap tidak terpelajar orang-orangnya atau bagaimana Indonesia telah mempunyai hubungan baik sebagai bangsa yang besar dan diakui oleh negara lain dan itu membuat bangga saya. Terakhir ketika ke Myanmar, berapa kali orang yang mengajak berkenalan selalu langsung menebak saya “Are you from Indonesia?” negara besar yang menanamkan banyak investasi di negara yang baru saja terinternasionalisasi setelah lebih dari setengah abad menutup diri.
Di Hostel-ketika saya di penang, seorang bule spayol yang mengatakan bahwa mentawai itu ada di malaysia dan saya jelaskan bahwa mentawai itu ada di sumatera-Indonesia, ia pun penasaran bertanya kepada saya:
 “Where’s Indonesia? so far from here?”
Akhirnya saya pinjam peta yang ada di hostel dan mulai menjelaskan peta Asia, dia manggut-manggut. Sedetik kemudian ia merespon: “I thought mentawai is in malaysia”
Yak, kita kalah diplomasi & kalah start dalam hal pariwisata memang, tapi ya mbok jangan kebangetan sampai tidak tahu negara selebar Amerika Serikat dan seluas  lebih dari Brazil ini..haduuuhhhhh…
Dalam suatu perjalanan pulang menuju Jakarta dari Solo, saya bertemu dengan bule ganteng dari Prancis namanya Hans. Dia udah 3 minggu di Bali, Yogya dan Solo. Tanpa berbasa-basi saya langsung bertanya “So, how’s Indonesia?”.
“Not sure to go here twice” kata Hans
“Why?” jawab saya dengan nada kaget+kecewa
“Everyone stare at me, and expensive”
Nah, jawaban blak-blakan dari turis yang baru aja ke Indonesia ini buat saya agak kecewa dan malu. Untuk mahal memang Indonesia mempunyai biaya hidup yang relatif mahal, terutama untuk turis yang dikenakan harga lebih tinggi dari masyarakat lokal. Budaya aji mumpung ini yang masih jadi PR bersama. Sudah selayaknya kita berpikir lebih jauh untuk ramah secara tarif pada orang asing yang berkunjung ke Indonesia untuk keberlanjutan penghasilan dengan menarik lebih banyak turis.
Ketika berkunjung keluar negeri, saya selalu berharap bertemu orang Indonesia. Berbicara dalam bahasa Indonesia di luar negeri dengan orang-orang yang kita temui adalah amazing! Dari situlah saya menyebut tumbuhnya kesadaran bernegara berbangsa, bahwa negara kita layak dibanggakan di mata Internasional.
Bagaimana dengan perjalanan ke dalam negeri? Terakhir gw ngetrip ke malang, saya agak tersentak ada orang yang berbaik hati mengajak ngobrol dan menunjukkan jalan ke air terjun tiba-tiba menarik biaya dari saya sebesar 200 ribu. Apa itu yang dikatakan keramahtamahan Indonesia?

Labels:

[ReBlog] Tips Bagi Yang Akan Melakukan Solo Travelling (Khususnya Wanita)

Kadang banyak orang pas denger kita akan travelling sendiri pasti reaksi pertama “iihhh sendiri? apa enaknya jalan sendiri?” atau “Gila! ngapain lu sendiri? ga takut apa?” atau kayak emak gw “Berangkat sendiri, awas aja nanti kalau balik jadi 2 atau 3?” haduuuhhhh…
Mencari rekan jalan atau “travel soulmate” itu susah-susah gampang sih..susahnya kadang setiap jalan yang kita butuhin adalah “Rekan-teman Jalan” bukan “Pengikut atau Follower”. Yang dibutuhin itu saling ngebatu memberikan informasi, mulai dari perencaan sebelum berangkat sampai nanti ketika jalan ga jarang lu dihapkan dengan pertimbangan-pertimbangan, nah disitu tuh gunanya rekan jalan tadi. ketika lu berhadapkan dengan pertimbangan-pertimbangan tadi, pasti yang lu butuhin dari seorang rekan jalan adalah untuk ngasih saran, ide, diskusi sampai akhirnya tercapai pada sebuah kesepatan dan keputusan. Bukan malah ketika lu  dihadapkan dengan situasi yang memerlukan pertimbangan & keputusan, dia hanya bisa bilang “seterah, gw ikut aja. gw kan ga tau medan” yah cape deh..gw juga ga tau kali..makanya cari tau sebelumnya. Kalau mau gampang dan ga mau susah ikut aja travel agen aja, tinggal duduk manis, ikut sana ikut sini tiba-tiba nanti udah sampai tujuan. Tapi selalu ada harga yang harus dibayar untuk itu semua itu…
Buat jalan senderi, sebenarnya ga usah takut lagi..yakin banget gw orang indonesia itu ada di penjuru bumi ini..kalaupun ga ada ya paling orang akan tertarik pas denger kata “INDONESIA” dan itu akan menjadi kesempatan buat lu nambah teman + dapet temen yakan..
Nih, ada beberapa tips buat kamuh-kamuh yang akan jalan sendiri (terutama solo travelling wanita):
  1. Yakini diri, bahwa kamu ga akan sendiri di kota tersebut. yakin pasti akan dapat teman selama perjalanan.
  2. Cari informasi terkait tentang tempat yang akan dituju. Kondisi sosial setempat, cari tau tingkat kriminalitas yang akan dituju.
  3. Bikin itinerary mau kemana aja kamu selama disana. Usahakan bikin satu sampai dua plan, jadi ketika plan ke satu tidak berjalan dengan baik, maka ada plan cadangannya. jadi agak meminimalisir kecenderungan untuk bingung dan bengong sejenak.
  4. Pakai sesuatu yang mencenderungkan identitas dari mana kamu berasal. misal, paka baju atau kaos yang menunjukkan identitas negara kamu berasal (seperti kaos bertuliskan indonesia, atau salah satu kota di indonesia).
  5. Senyum 3 jari ala model. cuma modal senyum duank orang akan ramah dan lama-lama pasti tergugah buat ngajak ngobrol, ini orang kok manis banget ya dari tadi senyum ramah banget dan pasti ada aja yang ngajak ngobrol.
  6. Tanya dan sapa terlebih dahulu. untuk kenalan sama orang cukup dengan menyapa “Hallo” “Hai” atau “Morning”. ini gw terapin selama perjalanan, apalagi pas di hostel efektif banget buat dapet temen. tiap pagi pas bangun tidur dan ketemu atau papasan ama orang jangn lupa sapa”Morning” + senyum pastinya..:)
  7. Jangan lupa selalu berdoa..emak gw selalu bekalin doa anti bala, katanya setiap pagi abis subuh atau sehabis shalat magrib janagan lupa doa itu dibaca, insyaallah kita selalu dalam lindungannya..
  8. Niat harus selalu tulus. Tulus dalam melakukan perjalanan & tulus mencari pertemanan. Dengan tulus semua akan terpancar dari aura kita dan percaya banget gw ama kalimat “apa yang kau tanam itu yang kau tuai” kalau lu tulus berkenalan untuk mencari pertemanan & menambah wawasan insyaallah tuhan akan memberikan apa yang kau niatkan.
  9. Jaga perkataan & kesopanan. sesuaikan dengan kultur setempat.
  10. Cari tau bahasa yang biasa digunakan ditempat yang akan di tuju. Apabila anda berpergiaan kedaerah yang menggunakan bahasa kurang familiar atau sulit untuk dimengerti gunakan bahasa dunia, semisal inggris. atau kalau ternyata penduduk setempat kurang mengerti bahasa inggris, bisa berlatih bahasa tarsan. nak ini yang saya lakukan saat travelling ke kawasan negara-negara indocina. bahasa inggris mereka yang sulit dicerna dan susahnya bahasa setempat untuk dipelajari, alhasil saya keluarin jurus tarsan..:)
  11. Simpan barang-barang berharga pada tempat yang aman. Paspor jangan lupa di fotocopy, kalau mau berpergian cukup bawa fotocopyan saja. saya kemarin sempet kalang kabut mencari paspor yang ketelesip dan lupa saya simpan dimana karena sering saya pindah-pindahkan. so bagi anda yang pelupa seperti saya, tarolah ditempat yang aman.

Labels:

[ReBlog] Apa pun itu saya hanya seorang "PEJALAN"

Akhir-akhir ini istilah backpacker lagi santer banget..banyak buku-buku bertemakan backpacker, banyak travel tour bikin paket backpacker..lagi ngejamur banget lah..
Dulu gw seneng banget kalo ada yang bilang “lo backpacker ya?” tapi kesini-sini gw miki..buat gw itu cuma istilah, bahkan cenderung mengotak-ngotakkan siapa lu…
Sebenarnya inti dibalik kata backpacker adalah orang yang melakukan perjalanan dengan low-cost, menggunakan ransel, dengan durasi yang lama & yang terprnting berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Sedangkan gw selama ini tidak semua-mua gw laksanain. Kl low cost iya, secara memang budgetnya emang adanya segitu. Masalah bawa ransel, gw lihat lebih kearah simple aja, masa iya lu pergi ke pantai dengan dorong-dorng koper. Dengan durasi yang lama, saya belum pernah pergi dengan memakan waktu 1 bulan, 2 bulan, paling lama adalah seminggu. Kenapa durasi yang lama ini muncul dibalik istilah backpacker? Karena mungkin kata backpacker itu sendiri berasal dari barat sana, orang sana kalau libur lu tau sendiri lama..bisa sebulan sampai dua bulan. Sedangkan kita yang notabennya orang indonesia paling lama cuti dalam setahun adalah 12 hari. Tujuan dari persyaratan ketiga ini adalah untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar, semilas mengetahui budaya sekitar, belajar mengenai kebiasaan sekitar. Walaupun selama perjalanan saya juga menggunakan transportasi setempat, tinggal di pemukiman penduduk, ngobrol dengan warga sekitar tapi tidak dengan waktu yang cukup untuk belajar bahkan memahami sebuah budaya setempat.
Teman saya pernah bercerita, dia baca artikel disalah satu maskapai penerbangan yang membahas tentang perbedaan turis dan traveler. Si penulis membedakan hanya berdasarkan pada siapa yang ngatur. Kalau turis diatur segala keperluannya, mulai penginapan sampai dengan transportasi oleh seseorang atau lembaga yang bisa disebut travel biro atau agent. Jadi, semisal kalian ikut jalan bareng sama orang tapi hanya sekedar ikut ngintil saja, ga tau mau kemana dan sama sekali ga tau kondisi sekitar, terima bersih mau kemana dan ngapain, budget juga ikut saja, maka penulis tersbut mengategorikan anda sebagai turis. Sedangkan traveler mengatur semua hal sendiri. Ga ngebedaiin apakah penginapan yang diinapi akan membedakan turis dengan traveler. Jadi mau tinggal di hotel atau hostel, kalau kita atur sendiri si penulis akan mengategorikan anda kedalam traveler. Ada lagi istilah flashbackpaker, yaitu pelancong yang tidak menggunakan jasa agen travel, tapi tetap memperhatikan kemudahan dan kenyamanan, sehingga dana yang dikeluarkan cukup besar. 
Seiring berjalannya waktu, bagi saya lebel-lebel seperti itu tidak begitu penting. Saya tidak menyebut diri saya sebagai backpacker, tapi saya memang melakukan perjalanan dengan cara traveling secara independen dengan anggaran minim. Demikian juga turis, explorer, observer, dll, buat saya itu adalah label-label saja. Ada backpacker yang menolak dirinya disebut turis dan keukeuh minta disebut traveler. Buat saya ya lucu aja, karena sebenarnya backpacker itu juga turis yaitu sama-sama mencari hal-hal yang eksotik yang beda dari kehidupannya demi kesenangan sendiri.
Sebut saja saya pejalan, karena saya tidak melakukan semua kategori backpacker seperti diatas yang saya sebutin tadi, apalagi yang sampe mengorbankan tingkat kenyamanan saya. Well awalnya saya melakukan traveling untuk mencari hiburan; kabur dari rutinitas sehari-hari. Saya kurang suka mengotak-ngotakkan karakter. Ada yang bilang turis itu lame, backpacker itu keren. Orang menganggap backpacker lebih jagoan. Tapi menurut saya yang terpenting adalah bagaimana anda mengekspresikan perjalanan anda. Bagi saya traveling, pengalaman  personal masing-masing individu. Itulah kenapa saya kurang suka mengotak-ngotakkan karakter. Turis vs traveler. Backpacker vs suitcaser. Orang boleh menyebut apa saja , saya tidak permasalahkan hal itu selama saya senang dengan apa yang saya lakukan saat traveling. Intinya sih, mau seperti apa gaya jalan-jalan anda, selama tidak merusak alam dan budaya setempat, itu jauh lebih dari sekedar embel-embel nama.

Labels:

Some an Intro

Holla!


Hope this blog finds you well or at least dying for holiday. ;p
The name ‘Fakir Cuti’ means a person who need to take some rest and dying for holiday/vacation all the time. Which is ME. :D
For me, holiday is not always going far from home but how the day goes with fun and no-work-attached. It could be just having a sleepover at a friend’s house or going outside the city (could be still in Indonesia region or abroad).
In this blog, i will try to write all about it and hopefully there are some pictures attached.
Kinda wish you like the way i’m telling my story :)
cheers!

Me - Fakir Cuti

Labels: